Ternyata Aku Diperbudak Teknologi

Tags

Sudah tiga hari ini hp kesayanganku sakit. Tiba-tiba crash, and then.. mati total. Padahal menjelang hp ku sekarat, tidak ada aktifitas apapun yang beresiko merusak. Semua pemakaian normal seperti biasanya. Untuk sms, internetan, sosmed, sesekali multimedia.

Dan sampai sekarang belum ada titik terang untuk kesembuhan. Rasanya itu seperti kehilangan belahan jiwa, galau berat. Serasa ada yang hilang setiap kali melakukan sesuatu. Karena kemanapun terbiasa ditemani mainan teknologi satu ini. Sudah seperti salah satu anggota tubuh, nempel terus.

Diperbudak Teknologi

Tapi dari tragedi ini aku menyadari satu hal, bahwa selama ini ternyata kita telah diperbudak teknologi, khususnya hp. Kalau tidak percaya, lihatlah sekitar dan renungkan bagaimana sebagian orang memperlakukan hp.

Bangun tidur


Mulai bangun tidur, apa yang pertama kali kita cari? Hp. Ingin memastikan apakah ada sms atau panggilan masuk, apakah ada pesan BBM, WA, Line, Wechat, dan semacamnya. Bukannya mensyukuri nikmat bahwa masih diberi kehidupan, masih terbangun dalam keadaan baik-baik saja.

Sambil makan


Sudah menjadi gaya hidup sekarang, saat makan bukan hanya sendok dan garpu lagi yang dipegang. Ternyata ada parabot makan tambahan, yaitu hp. Tangan kanan untuk makan sambil tangan kiri main hp. Saking khusuknya liat hp bahkan sering salah sasaran memasukkan sesuap nasi, yang harusnya ke mulut malah nyasar ke pipi, hidung, dsb. Ini juga nyata.

Berkendara


Ada tren baru nampaknya. Salah satu penyebab kecelakaan yang cukup tinggi sekarang adalah karena si pengendara lalai, berkendara sambal main hp. Padahal kalau dipikir-pikir ini orang goblok banget. Kalau dia cerdas, mending berhenti menepi sejenak, entah untuk mengetik sms atau menerima telepon. Selain untuk alasan keselamatan juga bisa lebih fokus dan tenang.

Yang ironisnya lagi, ada orang naik motor boncengan dengan kawannya. Tiba-tiba terjadi kecelakaan. Dan yang dicari dan dikhawatirkan pertama kali adalah hp nya, bukan temannya. Sampai segitunya, teknologi mengikis rasa humanisme kita kepada sesama.

Jauh dari Agama


Dari sudut pandang agama, hp ini juga semakin menjauhkan generasi sekarang dari agama. Coba perhatikan, kalau dulu masih sering kita saksikan jamaah biasa mengisi waktu luang antara adzan dan iqamah dengan berdzikir dan membaca alquran. Sekarang apa? digunakan untuk main hp. Selesai shalat juga sama, bukannya merenung sejenak berdzikir mengingat sang pencipta, malah hp yang diutamakan.

Karena teknologi juga orang buta dosa, bahkan merendahkan martabatnya sendiri sebagai manusia yang mulia. Seperti yang baru-baru ini diberitakan, “seorang siswi rela menjual diri hanya untuk bisa membeli Hp”. Astaghfirullah…


Itu hanya sebagian kasus yang kita jumpai di masyarakat sekarang. Tentunya masih banyak lagi potret di masyarakat bahwa kita diperbudak teknologi. Mestinya kita bisa lebih bijak dalam memanfaatkan kemajuan teknologi, bukannya malah kita yang diperbudak dengan selalu merasa ketergantungan, melakukan atau meninggalkan segalanya demi teknologi.


EmoticonEmoticon