Ulasan Film The Fault in Our Stars

Film The Fault in Our StarsUlasan Film The Fault in Our Stars Hazel (Shailene Woodley) ke mana-mana selalu ditemani tabung oksigen yang dia seret seperti menyeret koper. Ada slang kecil melintang di wajahnya, terhubung ke tabung oksigen. Remaja berusia 18 tahun itu didiagnosis menderita kanker tiroid sejak lima tahun lalu. Namun kini kanker sudah menjalar ke paru-paru. Hari-harinya lebih banyak digunakan membaca novel di kamar atau di halaman belakang rumah. Temannya tak banyak, mungkin tak sempat menjalin pertemanan karena, sejak mulai remaja, ia keluar-masuk rumah sakit.

Khawatir si putri tunggal malah jatuh depresi, orang tuanya (Laura Dern dan Sam Trammell) mendorong Hazel bergabung dalam sebuah support-group untuk remaja pengidap kanker. Awalnya dia ogah-ogahan karena, menurutnya, kegiatan begini toh tidak menunda kematian.

Pada kedatangan yang kedua, Hazel bertemu dengan Gus (Ansel Elgort), yang mengantar kawannya, Isaac (Nat Wolff), menghadiri sesi berbagi. Isaac tak lama lagi akan kehilangan penglihatannya akibat kanker.

Saat giliran Gus bercerita, dia berdiri, membuka pipa celana kanan, menunjukkan kaki kanannya yang merupakan kaki palsu. Sudah satu setengah tahun dia dinyatakan bebas kanker tulang osteosarcoma. Kaki kanannya diamputasi akibat kanker ini.

Sudah bebas dari kanker apakah artinya Gus sudah bebas dari ketakutan? Tidak ternyata. Kepada fasilitator kelompok, dia katakan yang paling dia takutkan saat ini adalah “terlupakan sama sekali (oblivion)”.

Jawaban Gus seketika menarik perhatian Hazel dan mendorongnya buka suara, “Oblivion itu akan datang. Jika bukan hari ini, dalam ribuan tahun ke depan. Suatu saat kita akan terlupakan, suka atau tidak.”

Tak berhenti di sana, pemuda 18 tahun dengan kegantengan maksimal itu kembali menebar pesona saat mereka sama-sama di luar, menemani Hazel yang menunggu dijemput ibunya. Gus mengeluarkan sekotak rokok dari sakunya, mengambil sebatang, dan menyelipkannya di bibir. Tentu saja Hazel, yang bernapas saja harus dibantu oksigen, marah besar karena ada yang akan merokok di dekatnya.

Tapi ternyata Gus tidak pernah menyalakan rokok itu. Inilah cara Gus meledek kematian, “merokok” tak lain sebuah metafora, “Kita selipkan sesuatu di antara gigi, tapi tidak memberinya kekuatan untuk membunuh. (You put the killing thing right between your teeth, but you don’t give it the power to do its killing).”

Woo…hoo… ada yang tidak biasa di sini: remaja dan kanker ternyata tidak sama dengan cerita cengeng menye-menye, bukan juga kisah heroisme pengidapnya melawan kanker.  The Fault in Our Stars seakan “sudah selesai” dengan semua itu. Kematian bukan lagi jadi sesuatu yang menakutkan, melainkan seperti tetangga sebelah rumah yang ujug-ujug sudah menutup pintu… dari dalam.

The Fault in Our Stars diangkat dari novel dewasa muda yang ditulis John Green, cerita ini kemudian diadaptasi Scott Neustadter dan Michael H. Weber, penulis (500) Days of Summer (2009). Mungkin itu sebabnya dua film ini punya kesamaan dalam menciptakan romantik klise yang merangkum keajaiban cinta dalam banyak bentuk, berikut kesengsaraannya.

Josh Boone membuat film ini berbeda dari film-film ABG lainnya, yakni memadukan kanker dan moralitas secara lembut dan jenaka. Sedih sudah pasti, tapi di situ juga ada manis, romantis, humor, dan kehangatan yang arah datangnya tak disangka-sangka. Hazel dan Gus menggiring, mengayun, dan menohok kita lewat dialog-dialog mereka yang indah serta mendalam.

Film dibuka dengan menampilkan Hazel berbaring di rumput, menatap bintang-bintang malam. Suaranya menuturkan kisah romantis macam apa yang akan disuguhkan dan sebiasa apa orang-orang sekitar berdamai dengan kanker yang diidapnya.

Ambil contoh, ketika Hazel khawatir penyakit ini jadi beban orang tuanya, ayah Hazel dengan ringan mengatakan bisa saja mereka meninggalkan Hazel di panti asuhan dengan catatan tersemat di bajunya. “Tapi kami bukan orang sentimentil,” ujar ayahnya sambil terus menyiapkan sarapan.

Dalam subplotnya, dua karakter utama kita menemui Peter van Houten (Willem Dafoe) penulis An Imperial Affliction, buku favorit Hazel, tentang seorang gadis penderita kanker yang ceritanya berakhir mendadak. Untuk mengobati penasarannya, Hazel dan Gus melakukan “ziarah” ke Amsterdam menemui Van Houten, termasuk mengunjungi Museum Anne Frank, yang jadi setting terpenting film ini.

Elgort membuat terobosan dengan memerankan karakter Gus yang hangat, cerdas, lembut, berkaki palsu, jatuh cinta, dan punya rencana besar. Seperti dia katakan, “Saya cenderung hidup dengan cara luar biasa.” Dia pun berhasil “melunakkan” dialog paling berat tentang oblivion dan cinta dengan begitu cekatan.

The Fault in Our Stars semakin menonjolkan kelebihan Shailene Woodley, yakni keotentikannya. Woodley pula yang membuat kehadiran Elgort makin bercahaya.  Chemistry dua orang inilah kunci penting film ini. Pada akhirnya, The Fault in Our Stars mengingatkan, nggak penting-penting amat meninggalkan segerombolan penggemar ketika mati. Sudah lebih dari cukup dicintai sedikit orang tapi demikian mendalam untuk membuktikan keberadaan seseorang itu berarti.


EmoticonEmoticon