Sperma Tiruan, Solusi Mengatasi Kemandulan

Untuk mengatasai kemandulan kaum Adam, para ilmuwan Amerika Serikat membuat cikal bakal sperma dari kulit manusia.

Usia pernikahan Ahmad Suab sudah berjalan hampir empat tahun. Namun, pria 44 tahun ini belum juga dikaruniai momongan. Karyawan salah satu perusahaan swasta di bilangan Koja, Jakarta Utara, itu sudah sering berkonsultasi dengan dokter perihal kesehatan reproduksinya. Terakhir kali, ia memeriksakan kondisi kesehatannya, sebulan lalu.

Bardasarkan hasil pemeriksaan dokter, sperma Ahmad tidak subur. "Saya disarankan untuk banyak mengonsumsi buah-buahan dan menghindari minuman yang mengandung bahan kimia. Karena, menurut dokter, semua itu dapat menghambat kesubuaran sperma saya," katanya kepada Gatra, dua pekan lampau.

Ia bingung dibilang tidak subur, sebab tak ada satu pun dari saudara kandungnya yang mandul. Kendati tidak banyak mengetahui apa penyebab sehingga sperma dikatakan tidak subur, pria yang rajin berolahraga sejak setahun terakhir ini tidak bosan memeriksaan diri atau berkonsultasi dengan dokter, paling jarang dua kali sebulan. Tujuannya, agar bisa termonitor perkembangan spermanya.

Ahmad mengaku belum berani mengambil langkah inseminasi buatan atau bayi tabung layaknya orang-orang yang dirundung duka lantaran belum memiliki anak. "Kesehatan istri saya tidak ada masalah. Istri saya melarang untuk bayi tabung, karena itu saya harus berusaha terus," ujarnya.

Ia hanya bisa pasrah setiap kali selesai pemeriksaan dan spermanya dinyatakan tidak subur. Apa pun yang terjadi, dia hanya bisa berdoa. Kualitas sperma sering kali menjadi persoalan pada pria mandul. Mereka sebagian pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan.

Hasilnya, jumlah sperma di bawah normal, bentuk sperma tidak normal, tidak ada belalainya, dan tidak bisa berenang. Faktor-faktor tersebut memang memengaruhi kemampuan seorang pria untuk punya anak. Setelah mengetahui hasilnya, dokter biasanya cuma memberikan vitamin yang dianggap bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas sperma.

Namun kini, pria mandul tak perlu cemas. Peneliti Stanford University School of Medicine, Amerika Serikat, berhasil membuat terapi alternatif baru untuk pria yang memiliki sedikit sperma atau bahkan tidak bersperma. Para ilmuwan itu memanfaatkan sel punca dari kulit pria infertil.

Seperti disiarkan jurnal Cell Reports bulan lalu, peneliti mengambil sel-sel kulit lima pria. Mereka adalah tiga pria mandul dan dua pria sehat. Semua sel kulit tadi direkayasa di laboratorium untuk menghasilkan sel punca. Sel punca itu lalu berkembang menjadi sel-sel germ, sejenis sel yang dalam lingkungan manusia bakal menjadi sel sperma manusia yang sehat. Lalu sel germ disuntikkan ke tubuh mencit jantan.

Di situ, peneliti melihat bahwa sel-sel germ yang didapat dari pria sehat mempunyai jumlah yang lebih banyak daripada sel-sel germ dari pria infertil. "Karena menggunakan mencit dan manusia, kami tidak menuntaskan riset kami," kata Reijo Pera, ketua tim peneliti.

Ia juga tidak berencana melanjutkan risetnya untuk menciptakan sperma. Ia belum melihat apakah cara ini bisa bekerja pada manusia. Toh ,Reijo Pera optimistis hasil studinya bisa dipakai untuk menghasilkan sel-sel sperma dari kulit pria normal. Selain itu bisa dicangkokkan ke tubuh pria infertil.

Jika ini bisa diterapkan pada manusia, banyak pria yang tertolong dan bisa mendapatkan anak. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 25% pasangan suami istri belum mendapat momongan. Dari jumlah itu, 40% hanya disebabkan oleh pria yang mandul.

Sebanyak 15% dari istri, dan sisanya oleh kedua pasangan yang mandul. Dari pria mandul, sebanyak 10% karena tidak ada sperma atau spermanya sedikit. Untuk mencegah hal tersebut disarankan agar tetap menjaga suhu testis, pabrik sperma pada laki-laki. Yaitu, pada suhu 2-4 derajat Celcius di bawah suhu tubuh. Suhu tubuh manusia yang normal pada kisaran 35-37 derajat Celcius.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Departemen Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dwi Ari Pujianto, mengatakan bahwa penelitian sperma buatan belakangan ini memang ramai dilakukan. Peneliti Karim Nayernia, ahli biomedis berkebangsaan Iran, pernah melakukan riset membuat sperma fibroblas dari kulit tikus. Kemudian, Charle Esley juga mengerjakan riset serupa.

Namun, dari keduanya, riset Karim yang lebih maju lantaran sel sperma dari kulit disuntikkan ke sel telur mencit betina. Setelah terjadi pembuahan dan terbentuk embrio, disuntikkan ke rahim tikus betina tadi. "Ia bisa membuktikan bisa membuat sperma yang menghasilkan indvidu baru," katanya.

Prinsipnya, kata Dwi Ari, manusia berkembang dari satu sel. Ketika sel sperma bertemu sel telur, hingga terbentuk zigot. Dari zigot, sel terus membelah. Sementara itu, sel punca adalah sel yang belum terdiferensiasi dan dapat berkembang menjadi sel-sel apa pun. "Tergantung induksinya," Dwi Ari menambahkan.

Induktor itu yang menstimulasi sel berkembang menjadi sel tertentu yang diinginkan peneliti. Dalam pembuatan sperma, sel distimulasi menjadi sel punca spermatogenium. Rekayasa inilah yang dilakukan dalam pembuatan sperma dengan sel kulit.

Yang penting, sel diambil dari individu yang fertil. "Jangan diambil dari pasien yang infertil karena genetis," kata Ari. Bila sel diambil dari pasien, tidak ada gunanya, lantaran gen pria infertil akan sulit menghasilkan sperma fertil.

Menurut Ari, percobaan sperma buatan merupakan terobosan dunia medis. Ia meyakini, penelitian semacam itu akan menjadi solusi terapi pasien yang tidak subur akibat faktor gen. Berdasarkan pengalaman Ari, 20%-25% pasien infertil disebabkan kelainan gen ini.

Persoalan genetik bisa berdampak pada banyak hal, antara lain pergerakan sperma yang tidak lincah, jumlah sperma yang di bawah rata-rata, dan bentuk sperma yang tidak normal.


Persoalan yang tersisa adalah kaitan biologis antara anak dan bapak. Sebab, dalam percobaan selama ini, gen berasal dari donor yang subur. Kemudian, spermatogozit yang dihasilkan ditransplantasikan pada pria fertil. Ini belum terjawab.

Source : Majalah Gatra


EmoticonEmoticon