Menghadapi Polio, Kebangkitan Lumpuh Layu

WHO mengeluarkan status darurat menghadapi polio. Tiga negara dilaporkan endemik dan berpotensi menulari negara lain melalui perjalanan.

Untuk kedua kalinya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membuat pernyataan mengejutkan. Organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa itu mengumumkan status darurat terhadap penyakit polio. Peringatan yang dikeluarkan awal Mei ini memperlihatkan kekawatiran akan ancaman polio di dunia. Sebelumnya, pada 2009, WHO juga mengeluarkan status darurat flu babi.

Peringatan itu dilontarkan karena tahun ini diperkirakan penyakit kelumpuhan saraf ini bakal muncul dan menyerang lewat jalur perjalanan. WHO meminta agar semua orang di dunia divaksinasi untuk mencegah penularan polio. "Bila itu tak dilakukan, eradikasi sulit dilakukan," kata Bruce Aylward, Asisten Direktur Jenderal WHO Bidang Polio, seperti disiarkan dua pekan silam.

Peringatan itu disampaikan lantaran tahun lalu ditemukan 417 kasus polio di dunia, 24 di antaranya yang disebabkan oleh virus polio liar. Kasus sebanyak itu terdapat di Pakistan, Nigeria, dan Afghanistan. Tetapi tahun ini, hingga berita ini diturunkan, tercatat 59 kasus. Sedangkan di seluruh dunia tercatat 74 kasus.

Pakistan menjadi negara yang mendapat perhatian. Sebab, menurut WHO, sekuensi genetik virus polio yang menyebar ke seluruh dunia berasal dari Pakistan. Tahun lalu, virus itu menyebar ke sembilan negara, antara lain, Israel, Mesir, Suriah, Nigeria, Ethiopia, Kamerun, Irak, Somalia, dan Guinea Khatulistiwa. Dan tahun ini, merembet ke Afghanistan. Meskipun belum ditemukan kasus lumpuh, WHO memandang penting untuk memperingati warga di sana agar divaksinasi lebih dulu sebelum bepergian ke luar negeri.

Pemerintah Pakistan menanggapi serius. "Kami memberikan program vaksinasi di semua bandara, pelabuhan, dan wilayah perbatasan," ujar juru bicara Pemerintah Pakistan Sajid Ali Shah. Pihaknya menyarankan agar vaksinasi diberikan paling lambat empat pekan sebelum keberangkatan. Tetapi jika terpaksa, vaksinasi dapat diberikan beberapa jam sebelum warga Pakistan terbang.

Melonjaknya angka polio di sana sempat menimbulkan dugaan bahwa Pemerintah Amerika Serikat, dalam hal ini dinas intelijen CIA, ikut bertanggung jawab. CIA dituding sengaja melakukan program vaksinasi polio palsu untuk mendapatkan dioxyribonucleic acid (DNA) anak-anak untuk mendapatkan info anak Osama bin Laden, tokoh teroris yang berhasil ditemukan persembunyiannya dan ditembak mati oleh tentara Amerika di Pakistan pada 2011.

Akibat kecurigaan tersebut, banyak warga yang menolak divaksinasi. Bahkan kelompok militan di sana gencar melakukan kampanye anti-polio, lantaran khawatir dipakai sebagai alat mata-mata. Para militan terkait dengan kelompok Taliban juga mengancam dan membunuh para petugas kesehatan yang melakukan vaksinasi. Pemerintah setempat di Peshawar melarang penggunaan sepeda motor selama kampanye vaksinasi. Namun, akibat penolakan vaksinasi, ribuan anak-anak dan orang dewasa terkena virus polio.

Seorang pejabat Gedung Putih, Amerika Serikat, menjamin bahwa CIA tidak pernah menggunakan program vaksinasi dalam operasi mata-mata lagi. Program vaksinasi berbau spionase hanya digunakan sebelum serangan kepada Osama.

Ancaman tersebut juga berlaku untuk 11 negara Asia Tenggara dan Selatan yang sudah dinyatakan bebas polio seperti Indonesia. Indonesia bersama 10 negara lain di Asia Selatan dan Tenggara (antara lain India, Myanmar, Bhutan, Korea Utara, Maladewa, Nepal, Bangladesh) mendapat setifikat bebas polio dari WHO.

Dalam sambutannya Poonam Singh, Direktur WHO Regional Asia Tenggara, mengatakan: Pemberian sertifikat ini bukan berarti kita menurunkan upaya kita untuk mengimunisasi semua anak-anak kita dan melakukan surveilens AFP (acute flaccid paralysis), tetapi sebagai satu langkah untuk terus meningkatkan cakupan imunisasi dan penguatan surveilens AFP. AFP merupakan standar baku untuk mendeteksi kasus polio.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, Agus Purwadianto, menyetujui langkah WHO. Pasalnya, selama ini berbagai negara di dunia sudah berjuang memberantas wabah tersebut dengan hasil memuaskan. Wabah tersebut hampir tidak ada lagi, kecuali di Nigeria, Afghanistan, dan Pakistan.

Ketiga negara ini pula yang kemudian menjadi sumber penularan bagi negara-negara di sekitarnya yang mulanya sudah bersih dari polio dan kini terjangkit kembali. WHO lantas mengeluarkan peringatan agar masyarakat waspada."Kalau polio di tiga negara ini tidak diberantas, bisa menular ke negara lain," katanya.

Sebelum tahun 1988, Indonesia pernah menjadi daerah endemik polio. Kala itu, ditemukan 800 kasus per tahun. Setelah dilakukan vaksinasi dan surveilens, jumlah kasus baru terus menurun. Pada 1994, kasusnya tinggal 24 orang. Namun selang setahun dijumpai kasus polio liar rata-rata jumlah kasus polio klinis di Indonesia lebih dari 800 kasus per tahun. Kemudian terjadi penurunan kasus menjadi 24 kasus pada tahun 1994.

Tetapi, pada 1995, ditemukan dua kasus polio liar pada seorang anak di Medan, Sumatera Utara, dan Probolinggo, Jawa Timur. Setelah menghilang 10 tahun, tiga anak mengalami lumpuh layu akibat virus polio liar di Sukabumi, Jawa Barat. Virus tersebut terbawa orang yang berasal dari Nigeria.

Pada tahun itu, tercatat 305 orang di 10 provinsi terkena lumpuh. Diduga, virus itu terbawa saat ada orang masuk ke Indonesia. Virus itu berasal dari Nigeria. "Itu yang terinfeksi mulai dari Aceh sampai Banyuwangi. Untungnya nggak menyebar ke Kalimantan sama Bali. Kalau menyebar lebih sulit lagi penanggulangannya," tutur Kusnadi Rumli, dokter anak pada Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.


Menghadapi kasus polio di sejumlah negara itu, perlu dilakukan langkah pencegahan. Satu-satunya cara untuk mengantisipasi masuknya virus polio ke Indonesia, kata Kusnandi, adalah meningkatkan pola imunisasi dan mempertahankan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN). Imunisasi tetes polio lewat PIN bisa dilakukan berkali-kali, minimal empat kali. Jika satu penduduk terlewat imunisasi, risiko terjadinya wabah polio sangat besar. Apalagi ada orang masuk ke Indonesia membawa virus polio.

Source : Majalah Gatra


EmoticonEmoticon