Istri Sebagai Ladang Tempat Bercocok Tanam

Tags

Istri sebagai ladang tempat bercocok tanam. Sebagian dari kita mungkin sudah sering dengar ayat yang berbicara tentang dimensi seks suami istri, yaitu surah al-Baqarah ayat 223. Sudah banyak penafsiran tentang ayat ini. Namun saya pribadi sangat tidak suka ketika ayat ini justru dijadikan legitimasi bagi suami untuk berlaku sekehendak dirinya dalam hal meminta hak biologis kepada istrinya. Padahal di balik orientasi seksual itu ada sisi lain yang lebih mulia untuk kita renungkan.

Firman Allah tersebut berbunyi ;
...نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ...
...Isteri-isterimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu ke-hendaki...

Quraish Shihab menafsirkan ayat ini bahwa Istri adalah tempat bercocok tanam, bukan saja mengisyaratkan bahwa anak yang lahir adalah buah dari benih yang ditanam ayah –dan bahwa istri hanya berfungsi sebagai lading yang menerima benih- sehingga jika demikian jangan salahkan lading jika yang tumbuh apel, padahal anda menginginkan manga, karena benih yang anda tanam adalah benih apel, bukan benih manga. Hai suami! Jangan salahkan istri jika dia melahirkan anak perempuan, sedang anda menginginkan anak laki-laki, karena dua kromosom yang merupakan factor kelamin yang terdapat pada wanita sebagai pasangan homolog adalah (XX), dan pada lelaki sebagai pasangan yang tidak homolog adalah (XY). Jika X pada jantan bertemu dengan X yang ada pada wanita maka anak yang lahir perempuan, sedang jika X bertemu dengan Y maka anak yang lahir lelaki. Bukankah wanita hanya lading yang menerima, sedang suami adalah petani yang menabur?

Memperumakan istri dengan ladang, bukan hanya mengisyaratkan peranan bapak sebagai factor penentu jenis kelamin anak, tetapi lebih dari itu. Perumpamaan itu bagaikan menyeru petani –dalam hal ini suami- bahwa: hai petani! Tidak baik menanam benih di tanah yang gersang. Pandai-pandailah memilih tanah garapan, yakni memilih pasangan. Tanah yang subur harus diatur masa dan musim tanamnya. Jangan menanam benih setiap saat, jangan paksa ia berproduksi setiap waktu. Pilihlah waktu yang tepat, atur masa kehamilan, jangan setiap tahun anda panen, karena ini merusak lading.


Hai petani, bersihkan ladangmu dari segala hama, usir burung yang bermaksud membinasakannya, jangan tinggalkan ladangmu. Pupuklah ia dengan pupuk yang sesuai. Kalau benih telah berbuah, perhatikan sampai tiba masa panennya, agar buah berkualitas dan dapat tahan selama mungkin. Demikian pula anda, hai suami! Perhatikan istrimu, jangan tinggalkan ia sendirian, hindarkan darinya segala gangguan, ciptakan baginya kondisi yang sesuai guna menyiapkan pertumbuhan dan perkembangan janin yang akan dikandungnya. Bila tiba saatnya ia mengandung, maka beri perhatian lebih besar, kemudian setelah melahirkan, peliharalah anakmu hingga dewasa agar dapat bermanfaat bagi orangtuanya, keluarga, bangsa, bahkan kemanusiaan. Itulah kesan-kesan yang dikandung oleh “penamaan istri” sebagai lading tempat bercocok tanam.


EmoticonEmoticon