Islam dalam Tafsir Al-Manar

Tags

Tokoh utama corak penafsiran ini yang berjasa meletakkan dasar-dasarnya adalah Muhammad Abduh, dan kemudian di kembangkan oleh murid sekaligus sahabatnya, Muhammad Rasyid Ridha.

Muhammad Abuh

Muhammad Abduh adalah Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah. Ia di lahirkan di desa Mahallat Nashr di Kabupaten Al-Buhairah, Mesir pada tahun 1849M.[1]

Pada tanggal 11 Juli 1905, Muhammad Abduh meninggal di Kairo Mesir.[2] Ia pernah diasingkan ke Syuriah karena keterlibatannya dalam pemberontakan ‘Arabi sebagai gerakan pembaharuan. Dalam pemikirannya, ia mengikuti Ibn Taimiyah yang mencela tahayul dan bid’ah yang telah mencemari iman. Kemerosotan kondisi Islam pada saat itu sangat mengganggu hati dan pikirannya. Gagasan-gagasannya meliputi  pembaharuan intelektual dan politik agama, serta unifikasi politik di bawah satu pimpinan utama. Menurutnya bahwa pada dasarnya tidak ada pertentangan antara Islam dengan ilmu pengetahuan. Bahkan ia menafsirkan beberapa ayat Al-Qur’an secara rasional dan mengakui kekurangan skolastisisme Islam.[3]
Karya-karyanya :
  1. Ulasan ( syarah ) buku  al-Bashairun Nasiriah, karangan al- Qadhi Zainuddin, tahun 1898.
  2. Risalah at-Tauhid (dalam Bidang teologi), tahun 1897
  3. Al-Islam wa an-Nashraniyat ma’a al-‘Ilm wa al-Madaniyat  tahun 1902.
  4. Risalah al-'Aridat  (1837),
  5. Hasyiah Syarah al-Jalal ad-Diwani Lil ‘Aqaid adh-Adhudhiyah (1875)
  6. Syarah Nahjul Balaghah  (Komentar menyangkut kumpulan pidato dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib)
  7. Menerjemahkan karangan Jamaluddin  al-Afghani dari bahasa Persia, Ar-Raddu 'Ala ad-Dahriyyin (Bantahan terhadap orang yang tidak mempercayai wujud Tuhan); dan
  8. Syarah Maqamat Badi' az-Zaman al-Hamazani  (kitab yang menyangkut bahasa dan sastra Arab).
  9. Tafsir al-Qur’an al-Hakim (belum sempurna, kemudian dirampungkan oleh Rasyid Ridha);
  10. Khasyiah ‘Ala Syarh ad-Diwani li al-‘Aqaid adh-‘Adhudhiyat


Muhammad Rasyid Ridha

Muhammad Rasyid Ridha lahir di Qalmûn yang terletak disisi laut Atlantik di bukit Libanon pada 27  Jumâd al-Tsani tahun 1282 H/ 18 Oktobertahun 1865 M dan meninggal di usia + 70 tahun karena kecelakaan dalam perjalanan ke Kairo pada malam Kamis tanggal 23 Jumadil Ula 1354 H/22 Agustus 1935 M.[4]

Dia adalah Muhammad Rasyid Ibn Ali Ridha Ibn Muhammad Syamsuddin Ibn Muhammad Bahâuddîn Ibn Manlâ Ali Khalifah. Dalam pembentukan intelektual dan keilmuan ia lebih cenderung pada materi-materi klasik. Setelah membaca buku  Hujjat al-Islam Abu Hâmid al-Ghazali,  Ihya Ulûmuddin yang membuat ia mengenal  zuhud, tasawuf serta  ubudiyah dan kemudian bergabung dalam  suluk “Tarekat Naqsyabandiah.” Di tahun 1310 H/1892M terjadi perubahan yang besar dalam orientasi pemikirannya, setelah membaca majalah Al-Urwah al-Wustqa milik ayahnya yang diterbitkan di Paris (1301 H/1884 M) oleh Jamâluddin al-Afghâni (1254-1314 H/1838-1897M) dan Muhammad Abduh (1265-1323 H/1849-1905 M). Ia berubah dari sifat zuhud (Tarekat Naqsyabandiyah) di dunia serta perbaikan politik dan kemasyarakatan menuju sifat keislaman yang moderat yang di pelopori oleh al-Afghani dan muhammad Abduh yaitu saling menyeimbangkan antara jiwa dan raga, dunia dan akhirat, antara kebebasan pribadi dan kebebasan publik, antara kemuliaan manusia dan kepentingan umat Islam dalam tatanan mondial.[5]
Karya-karyanya:
  1. Al-Hikmah Asy-Syar’iyyah fi Muhakamati Al-Qadariyyah wa ar-Rifa’iyyah, buku ini adalah awal kitab yang disusunnya ketika beliau masih pelajar di Tripoli negeri Syam. Dikarenakan sebagai jawaban terhadap kitab yang dikarang oleh Ali Abi al-Huda ash-Shayadi yang mengemukakan Syaikh Sufi Sayyed Abdul Qadir Jailani.
  2. Majalah al-Manar, yang pertama kali terbit pada tahun 1315 H/1898 M dan akhir terbitnya itu pada edisi 35 tanggal 29 Rabiuts Tsani 1354 H/1935 M. Di tiap edisi banyak mencantumkan pendapat-pendapat beliau dalam pembaharuan agama dan politik.
  3. Tarikh al-Ustadz al-Imam Muhammad Abduh, terdiri 3 jilid.
  4. Nida al-Jins al-Latif (Huqûq an-Nisâ fi al-Islâm).
  5. Al-Wahyu al-Muhammady
  6. Al-Manâr wa al-Azhar
  7. Dzikrâ al-Maulid an-Nabawy
  8.  Al-Wihdatu al-Islâmiyyah
  9.  Yusru al-Islâm wa ushûl al-Tasyri’ al-Âm
  10. Al-Khilafatu au al-Imamah al ‘Udma
  11. Al-Wahabiyyun wa al-Hijaz
  12. Haqiqatu ar-Riba
  13. Muswatu ar-Rajul bi al-Mar’ah
  14. As-Sunnah wa asy-Syi’ah
  15. Manasik al-Haj, ahkamuhu wa Hukmuhu.
  16. Tafsir al-Manar, terdiri 12 jilid dan beliau hanya menafsirkan 12 juz kemudian sisanya yang 5 juz disusun oleh Syaikh Muhammad Abduh.
  17. Risalah fi Hujjati al-Islam al-Ghazali
  18. Al-Maqshuratu ar-Rasyidiyyah”
  19. Syubhatu an-Nashara wa Hujjaju al-Islam
  20.  Aqidatu ash-Shulbi wa al-Fida
  21. Al-Muslimun wa al-Qibti wa al-Muktamar al-Mashry
  22. Muhawaratu al-Mushallih wa al-Muqallid.


METODE  DAN CORAK  PENAFSIRANNYA

Pandangan Muhammad Abduh tentang kitab tafsir dan penafsiran; 1) ia menilai kitab-kitab tafsir pada masanya dan masa-masa sebelumnya tidak lain kecuali pemaparan berbagai pendapat ulama yang saling berbeda yang pada akhirnya menjauh dari tujuan diturunkannya Al-Qur’an. 2) untuk bidang penafsiran, ia menyatakan bahwa dialog Al-Qur’an bukan saja di peruntukkan bagi masyarakat Arab yang tidak tahu baca tulis tetapi berlaku umum untuk setiap masa dan generasi.[6]

Jalan pikiran Muhammad Abduh itu menghasilkan dua landasan pokok menyangkut pemahaman dan penafsirannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, yaituperanan akal dan peranan kondisi sosial. Menurutnya ada masalah keagamaanyang tidak dapat di yakini kecuali melalui pembuktian logika, ia pula mengakui bahwa ada ajaran-ajaran agama yang sukar dipahami oleh akal namun tidak bertentangan dengan akal. Wahyu harus  dipahami dengan akal, tetapi ia pun menyadari keterbatasan akal dan kebutuhan manusia akan bimbingan Nabi (wahyu) khususnya dalam banyak persoalan metafisika atau dalam beberapa masalah ibadah. Secara umum ajaran agama menurutnya terbagi dalam dua bagian yaitu rinci dan umum. Untuk yang rinci adalah sekumpulan ketetapan Tuhan dan Nabi-Nya yang tidak mengalami perubahan atau perkembangan, sedangkan yang umum merupakan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang dapat berubah penjabaran dan perinciannya sesuai dengan kondisi sosial.[7]

Ada bermacam-macam metode dan corak penafsiran Al-Qur’an. Dr. Abdul-Hay Al-Faramawi dalam bukunya yang berjudul Al-Bidayah fi Al-tafsir Al-Mawdu’iy  membagi metode-metode yang dikenal selama ini menjadi empat: analisis, komparatif, global, dan tematik (penetapan topik). Metode analisis tersebut bermacam-macam coraknya, salah satu di antaranya adalah corak adabi ijma’i (budaya kemasyarakatan). Corak ini menitikberatkan penjelasan ayat-ayat Al-Qur’an pada segi ketelitian redaksinya, kemudian menyusun kandungannya dalam suatu redaksi yang indah dengan penonjolan segi-segi petunjuk Al-Qur’an bagi kehidupan, serta menghubungkan pengertian ayat-ayat tersebut dengan hukum-hukum alam yang berlaku dalam masyarakat dan pembangunan dunia tanpa menggunakan istilah-istilah disiplin ilmu kecuali dalam batas-batas yang sangat dibutuhkan.[8]

ISLAM DALAM TAFSIR ALMANAR

Islam sebagai agama Allah dipahami secara berbeda-beda oleh beberapa kalangan, mulai dari pakar Kristen, pakar Yahudi, pakar Sosiologi, pakar Sekularis, pakar Humanis, pakar Modernis, dll. Pada tulisan ini akan dibahas bagaimana Tafsir al-Manar berbicara tentang agama Islam, yang dalam hal ini merupakan hasil pemikiran kedua tokoh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Penulis mengambil penjelasan tentang agama islam dalam tafsir ini dari surat ali imran ayat 19 :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

PENGERTIAN AL-DIN

Menurut rasyid ridha, din secara etimologis berarti الْجَزَاءُ وَالطَّاعَةُ وَالْخُضُوعُ (balasan, ketaatan, dan ketundukan), yakni sebab seseorang memperoleh balasan.
Sedangkan menurut istilah, din berarti sekumpulan taklif (kewajiban hukum) yang menjadi sarana bagi hamba untuk beribadah kepada  Allah. maka dalam pengertian ini, dīn juga bermakna Millah dan syara’.

Apa yang dibebankan Allah kepada hamba-hamba-Nya dinamakan syara’ jika dilihat dari segi peletakan dan penjelasannya (sebagai undang-undang dan penjelasan), dinamakan dīn apabila dilihat dari segi adanya ketundukan dan kepatuhan kepada pembuat syara’, dan dinamakan millah apabila dilihat dari segi berupa himpunan taklif.

PENGERTIAN AL-ISLAM

Kata islam merupakan bentuk masdar (kata benda) yang terbentuk dari kata kerja aslama, yuslimu, islâman, yang berarti berserah diri, tunduk dan mematuhi (aturan). 
Juga bermakna أدي yang berarti melaksanakan. Dikatakan أَسْلَمْتُ الشَّيْءَ إِلَى فُلَانٍ إِذَا أَدَّيْتُهُ إِلَيْهِ.

Kata aslama juga bermakna دخل في السلم (bisa dibaca kasrah dan fathah huruf sin nya) yang berarti kedamaian dan keselamatan. Sedangkan jika huruf lam nya berharakat maka bermakna الخالص من الشيئ (bersih dari sesuatu). Misalnya dalam surat al-zumar ayat 29 :

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

29. Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Penyebutan agama yang hak dengan kata islam itu sesuai dengan asal makna katanya secara bahasa, terutama makna yang terakhir yaitu damai dan selamat. Makna ini dikuatkan juga oleh ayat alquran surat al-nisa ayat 125 :

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

125. Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

ISLAM SEBAGAI AGAMA

Dalam beberapa surat di alquran, penyebutan Nabi Ibrahim dan juga Nabi-Nabi yang lain disifati dengan kata Islam. Ini mengindikasikan bahwa pembatasan dalam surat Ali imran ayat 19 ini mencakup seluruh agama yang dibawa oleh para nabi, karena sesungguhnya Islam adalah ruh dari semua agama tersebut. Semua agama dan syariat yang dibawa Nabi-Nabi terdahulu intinya satu, ialah "Islam" yaitu berserah diri kepada Allah Yang Maha Esa, menjunjung tinggi perintah-perintah Nya dan berendah diri kepada Nya walaupun syariat-syariat itu berbeda di dalam beberapa kewajiban ibadah dan lain-lain.

Dalam tafsir surat al-Fatihah Rasyid Ridha juga mengungkapkan bahwa Agama Allah yang diturunkan kepada semua umat hanya satu. Perbedaan hukum hanya terjadi dalam masalah yang sifatnya furu’ (cabang) akibat perbedaan waktu. Adapun masalah yang sifatnya ushul (pokok) sama sekali tidak berbeda.(hal.109) [9]Allah swt berfirman dalam surat al-Nisa ayat 163 :

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

Iman kepada Allah, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari akhirat, meninggalkan keburukan, melakukan kebaikan, dan berakhlak baik adalah sama-sama diajarkan kepada semua umat.
Rasyid ridha berkata bahwa syariat islam merupakan penyempurna tiga fondasi agama yang dibawa oleh semua nabi dan rasul agar disesuaikan dengan perkembangan manusia. Ketiga fondasi agama tersebut adalah; iman yang benar, beribadah hanya kepada Allah swt, dan bermuamalah secara tepat dengan sesame manusia.[10]

Dari sini kemudian rasyid ridha menyimpulkan bahwa seorang muslim hakiki menurut alquran adalah orang yang bersih dari benih-benih kesyirikan terhadap Allah, ikhlas dalam beramal yang disertai dengan iman, dari millah manapun dan situasi serta kondisi apapun. Inilah yang dimaksud dengan firman allah :
 وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ
Islam sebagai agama menurut rasyid ridha mempunyai dua macam tujuan :
  1. Membersihkan jiwa manusia dan akalnya daripada kepercayaan yang tidak benar seperti mengakui adanya kekuasaan gaib pada makhluk Allah.
  2. Memperbaiki jiwa manusia dengan amal perbuatan yang baik dan memurnikan keikhlasan kepada Allah.

Jika keduanya telah terwujud maka fitrah akan terlepas dari ikatan-ikatan yang membelenggunya untuk mencapai kesempurnaan. Kedua hal ini adalah ruh yang dimaksud dari kata al-islam.

Sedangkan amalan-amalan ibadah disyariatkan untuk mendidik ruh al-amri (ruh manusia yang berasal dari alam perintah) ke dalam ruh al-khalqi (ruh manusia yang berasal dari alam ciptaan). Oleh karenanya, dalam ibadah disyaratkan adanya niat dan keikhlasan. Ketika dua ruh tadi telah terdidik maka seorang pemeluk agama akan mudah menjalankan seluruh taklif yang dibebankan padanya.

Beliau juga mengatakan bahwa dalam islam terdapat berbagai jenis petunjuk, antara lain masalah aqidah dan adab amaliyah. Menurut beliau, masalah aqidah dalam alquran dibangun dengan pendekatan argumentasi akal dan realitas alam, sedangkan masalah adab dan hukum ‘amaliyah (aplikatif) dibangun atas daasar جلب المصالح ودرأ المفاسد (mendatangkan maslahat dan manfaat, menyingkirkan bahaya dan kerusakan).[11]

Agama islam menciptakan kesejahteraan bagi manusia –baik secara individu maupun kelompok- dengan cara mengenal Allah, mensucikan Nya, membersihkan jiwa dari segala kotoran kemungkaran dan kekejian, serta menegakkan kebenaran, keadilan, dan persamaan derajat di antara sesame manusia.[12]

Agama yang benar akan mencurahkan kepada pemeluknya ruh kehidupan yang menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang yang tidak memiliki agama tidak akan mendapatkan dua kebahagian itu. Dalam perilaku sehari-hari pun ia akan terlihat bertindak serampangan dan tampak gelisah. Biasanya, dalam mengikuti kesesatan dan keserampangannya ia akan mencari sandaran apa saja.

Kemudian pada akhir penafsiran tentang al-islam ini disimpulkan bahwa kunci kebahagiaan adalah keikhlasan dalam menjalankan amalan agama dan dunia, inilah esensi atau ruh islam.

PENUTUP

Demikian makalah singkat yang kami susun, tentu dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan di sana-sini, baik dari segi penulisan maupun penjelasannya. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sekalian sangat kami harapkan. Mudah-mudahan sedikit-banyak dari makalah ini dapat diambil manfaatnya oleh pembaca sekalian.




[1] M. Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsir Al-Manar Karya Muhammad Abduh dan Muhammad
Rasyid Ridha, cet. I (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), hal. 11.
[2]  Ibid, hal. 17
[3] Plihip K. Hitti, History of The Arabs (terj), (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006), hal. 966
[4] Anton H. Sultonan, “Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridha” (Makalah ini di presentasikan pada
acara tri wulan Pwk PERSIS oleh Bid. Taklim tanggal 18 Oktober 2003 di sekretariat Pwk PERSIS, Kairo.
Keterangan tentang ini  merujuk pada Sayyed Yusuf, Rasyid Ridla wal ‘Audah ila Manhaj as-Salaf,
hal.11, Cet. I Merit lin Nasyr wal Maklumat, Kairo, tahun 2000).

[5] Muhammad Imarah, Mencari Format Peradaban Islam (Diterjemahkan dari buku Al-Masyru’
al-Hadhari al-Islami: Muhammad Yasar dan Muhammad Hikam), (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2005), hal. 1-5.
[6] M. Quraish Shihab, hal. 22-23
[7] Ibid, hal. 23-24
[8] Ibid, hal. 25
[9] Rasyid Ridha, Tafsir al-Fatihah : Menemukan Hakikat Ibadah, Bandung : Penerbit al-Bayan, 2005. Hal.109
[10] Ibid, hal.111
[11] Ibid, hal.110
[12] Ibid, hal.217


EmoticonEmoticon