Agar Darah Mengalir Lancar

Pemasangan cincin di pembuluh darah bisa mengurangi risiko stroke berulang. Jumlah cincin yang disusupkan tergantung panjang pembuluh darah yang menyempit. Sebaiknya dilakukan jika penyempitan terlalu dalam ke rongga tulang kepala.

Edi Komang -sebut saja begitu-- merasakan ada yang tidak beres pada tubuhnya. Pria 43 tahun itu merasa pening dan limbung ketika bergerak. Itu merupakan puncak dari gejala sebelumnya, seperti separuh tubuhnya lemas. Gejala itu terjadi berulang.

Pegawai perusahaan minyak yang berbasis di Pekanbaru, Riau, itu lantas berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf di kotanya. Hasil pemindaian menunjukkan, otaknya kekurangan oksigen. Asupan oksigen terhambat oleh penyempitan di beberapa bagian pembuluh darah.

Edi kemudian dirujuk ke Fritz Sumantri, dokter spesialis bedah saraf di Rumah Sakit Fatmawati di Jakarta. Fritz memeriksa dengan angiography otak. Angiography adalah diagnosis menggunakan sinar-X untuk menggambarkan kondisi pembuluh darah di berbagai bagian tubuh, termasuk jantung, otak, dan ginjal. Sehingga bisa diketahui bila ada penyempitan, pelebaran, atau penyumbatan.

"Angiography otak itu adalah pemeriksaan pembuluh darah otak yang paling gold standard," kata Fritz. Gold standard artinya paling oke, karena menampilkan gambar pembuluh darah secara detail, jelas, dan akurat. Hasil angiography Edi menunjukkan ada pembuluh darah yang menyempit. "Saya tawarkan, karena masih muda, untuk pemasangan cincin atau sten," katanya.

Edi menanyakan perihal efek samping atau hal lain sehubungan dengan pemasangan cincin. Fritz menjelaskan, tujuan pemasangan untuk mencegah terjadinya stroke berulang, atau menekan secara signifikan risiko stroke berulang. "Dia setuju, seminggu kemudian kami pasang tiga cincin tersebut," kata Fritz.

Proses pemasangan sten pada pembuluh darah Edi terhitung cepat. Edi datang pada April lalu dan di bulan yang sama dokter berhasil memasang tiga sten di pembuluh darahnya. Pemasangannya dalam satu tindakan medis. Caranya dengan memasukkan sten melalui pembuluh pangkal paha. Lantas, didorong hingga ke tempat tujuan, pembuluh darah yang menyempit. "Begitu sten sampai tujuan kami lepaskan," katanya.

Pemasangan tiga sten dilakukan Fritz untuk kebaikan pasien. "Pembuluh darahnya yang menyempit banyak sekali. Saya bilang kalau semuanya saya buka, saya harus pasang tiga. Dan saya belum pernah melakukan. Biasanya paling banyak dua. Pembuluh darahnya kebetulan tidak terlalu sulit buat di antarkan sten," katanya kepada Purnawan Setyo Adi dari Gatra.

Fritz juga menjelaskan risiko kegagalan pemasangan tiga sten kepada Edi. "Risiko kegagalan pasang sten itu kematian dan cacat. Kematian itu kemungkinannya kecil. Cacat nol sampai dua persen," katanya. Hal lain yang membuat Fritz yakin atas usahanya ini adalah dukungan penuh perusahaan tempat Edi bekerja. "Perusahaannya meminta saya melakukan yang terbaik," katanya.

Alfred Sutrisno, Kepala Neuroscience Rumah sakit Omni Alam Sutera, Tangerang, Banten, mengatakan bahwa pada prinsipnya sten di otak, sama saja seperti di jantung. Kalau ada penyempitan bisa dipasang sten. "Pemasangan sten di otak sudah banyak. Jumlahnya tergantung pada panjangnya penyempitan," katanya.

Menurut Alfred, sten biasanya dipasang untuk stroke yang masih baru. "Kalau stroke yang sudah lama nggak ada gunanya," katanya. Atau biasanya untuk pencegahan. "Apakah dia ada keluhan sakit kepala, diperiksa apakah ada penyempitan. Nah, biasanya dianjurkan untuk pasang sten," katanya.

Pemasangan sten biasa dilakukan pada pasien stroke iskemik atau stroke yang terjadi karena penyempitan pembuluh darah hingga terjadi penyumbatan di otak. Sten berfungsi melancarakan aliran darah di pembuluh darah ke otak. Dengan begitu, pasien stroke tidak mengalami serangan stroke iskemik atau stroke berulang.

Penyumbatan pembuluh darah bisa terjadi karena ada pembentukan flek atau pengapuran di dinding pembuluh darah. Hal ini membuat pembuluh darah menyempit.

Selain itu, penyumbatan bisa juga terjadi karena adanya trombus atau pembekuan darah, yaitu flek yang masih lunak (emboli) yang lepas dari dinding pembuluh darah terus terbawa aliran darah. Ketika emboli terbawa ke pembuluh sempit, terjadi sumbatan. Sumbatan inilah yang mengganggu aliran darah ke otak. ''Menimbulkan stroke iskemik,'' kata Budhianto, dokter spesialis radiologi intervensi, Rumah Sakit Santo Borromeus, Bandung.

Besaran penyempitan pembuluh darah bervariasi, antara di bawah 50% atau lebih dan 70%-90% atau lebih. Pasien stroke iskemik berat biasanya mengalami penyempitan pembuluh darah di atas 70%. Penyempitan tersebut kadang belum mengakibatkan penyumbatan, namun sudah menimbulkan gejala stroke karena kurangnya aliran darah ke otak.

Budhianto menambakan, stroke di antaranya terbagi antara stroke iskemik dan strok pendarahan. Stroke pendarahan terjadi karena pembuluh darah yang pecah yang diakibatkan penyakit darah tinggi atau karena lemahnya dinding pembuluh darah; pembuluh darah tipis bisa menimbulkan pembentukan kantung darah. Pecahnya pembuluh darah mengakibatkan pendarahan di otak.

Dua jenis stroke tersebut bisa menimbulkan serangan berat. Jika pada stroke iskemik terjadi penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang efeknya bisa menimbulkan gangguan pada kesadaran. Begitu juga pada stroke pendarahan, meski gangguan hilang kesadaran bisa lebih cepat.

Ada dua tindakan untuk mengatasi penyempitan pembuluh darah ke otak, yaitu operasi pengangkatan flek penyumbat dan pemasangan stent. Operasi pengangkatan flek bisa dilakukan, jika pembuluh darah yang menyempit tidak terlalu masuk ke rongga tulang kepala. "Jika sudah masuk terlalu jauh ke dalam rongga tulang kepala, dilakukan pemasangan sten atau stenting,'' katanya.

Sten merupakan alat berupa rangkaian logam yang bentuknya menyerupai per. Alat ini diletakan pada pembuluh darah yang mengalami penyempitan. Fungsi sten untuk menjaga pembuluh darah terbuka agar aliran darah lancar.

Sebelum pemasangan, dilakukan pembukaan pembuluh darah dengan balon. Balon dimasukkan ke pembuluh darah yang menyempit, lalu dikembangkan untuk memperlebar pembuluh darah. Setelah pembuluh darah melebar, sten pun dipasang.

Dalam proses pembalonan ada kemungkinan terjadi kerontokan flek dinding pembuluh darah. Rontokan flek tersebut memungkinkan terjadinya sumbatan pada pembuluh darah. Karena itu, sebelum pemasangan stent dilakukan pemasangan alat penyaring darah yang berfungsi sebagai penyaring flek saat pembalonan.

Mengenai jumlah sten yang bisa dipasang, Budhianto menyatakan tergantung banyaknya pembuluh darah yang menyempit dan panjangnya penyempitan itu. ''Sten yang dipasang bisa lebih dari dua atau tiga, tergantung seberapa panjang penyempitannya dan di daerah mana penyempitan itu,'' katanya.


Source : Majalah Gatra


EmoticonEmoticon